Skip to main content

New Post

2026: SILENT ERA

Pantai Karang hitam : hidden beach in pasuruan

Waiting for sunset

Hi everyone, masih dalam nuansa Hari Raya Qurban nih... Happy Eid Al-Adha kepada siapapun yang ikut merayakan.
Bagaimana Idul Adha tahun ini ? Kalian berkurban, apa di(kurban)in nih ? Wkwk.
Yang pasti semoga kalian sehat-sehat ya 😉

By the way, gue yakin lebaran kemarin rasanya pasti stuck banget bagi beberapa kalangan... banyak hambatan dan juga larangan... untuk bertemu orang kesayangan.
Secara semua orang harus Stay at Home, Mudik not allowed !
Berbeda dari Ramadhan sebelumnya, kita bisa bukber dan mudik sesukanya... namun tahun ini kita dihadapkan masalah baru, yakni pandemi virus corona.

Untuk sementara kita bisa sedikit bernapas lega dengan adanya era New Normal ini, pelonggaran aktivitas mulai dilakukan dengan prosedur protokol kesehatan.
New normal, new beginning...
Dengan ditiadakannya PSBB, Idul Adha bisa menjadi (jeda) pengganti momen Idul Fitri yang telah lalu. Kesempatan ini gak disia-siakan dong untuk mudik atau sekedar berkunjung ke rumah kerabat (so pasti sesuai anjuran protokol kesehatan ya), gue juga auto-gercep (gerak cepat) buat keluar rumah wkwk. Just kidding, actually my mother needs me to accompany her to visit our family in Pasuruan.
...

Nah, awalnya gue kepikiran mumpung gue bisa dibilang lagi mudik nih... kenapa nggak ? sekalian aja melancong ke tempat wisata di Pasuruan. 
Alhasil gue bikin wishlist dadakan salah satu tempat yang belum pernah gue eksplor so far disana.

Pada mulanya tempat yang pengen gue kunjungi ialah Ranu Grati, unfortunately ternyata tempat wisata ini masih ditutup sementara.

Kabar baiknya, Pakdhe (uncle) gue mau ngajak gue pergi ke pantai. What ? Pantai ? For your information, jujur ! walaupun gue kelahiran Pasuruan tapi pengetahuan gue masih dangkal tentang detail hal apa aja yang ada di sana. Setahu gue di Pasuruan itu ada pantai, Pantai Lekok. Itupun antara inget dan enggak, apa gue pernah kesana ya ? (*haduh) 😝

Berdasarkan memori gue waktu kecil, Pasuruan itu excellent untuk mancing mania... seringnya diajak bokap mancing mulu tiap ke sana, i'm not sure for now (don't judge me pls !) Pasti masih ada wisata baru atau bahkan tersembunyi yang masih belum dikenal. That's why ketika gue beranjak dewasa, gue coba mencari pembuktian dari setiap pertanyaan (*wuss) i need some times to more research about Pasuruan. 

Dan ternyata...
Pasuruan bukan hanya menyimpan tambak ikan dan wisata pemancingan yang ciamik. Buktinya ada pantai yang tersembunyi lho... 
Pantai Karang Hitam salah satunya.
...
The hidden treasure

Pantai ini berlokasi di Kebun Wates, Kecamatan Lekok, Pasuruan Jawa Timur. 
(For the detail directions click here.)

Gak banyak detail yang gue ketahui untuk menuju ke lokasi, dan gak banyak ambil gambar selama di perjalanan. Selain karena gue waktu itu nyetir, gue juga harus ngikutin jejak Pakdhe gue untuk sampai di lokasi.
Akses menuju ke pantai ini masih belum banyak diketahui, dan medan yang ada cukup menantang untuk dilewati.
Mulai dari jalan raya, perkampungan, sampe hutan rasanya udah gue lewatin juga. 

Alhamdulillah, blusukan ini membuahkan hasil hahahaha..
Gue bisa lihat perahu-perahu di tepian, air laut dari kejauhan, dan bau menyengat dari ikan. Banyak warga perkampungan dekat pantai ini yang sedang menjemur ikan di halaman, ada pula kambing-kambing (*unyu) yang dibiarkan berlarian di jalanan.

Pakdhe pernah beberapa kali berkunjung ke pantai ini, (tepatnya) sebelum adanya pandemi. Beliau beserta teman-temannya ke pantai ini mengendarai sepeda, cannot imagine cycling after throughout the route 😅

Pakdhe bilang kalo pantai ini tuh masih alami, masih jarang ada orang yang tau, sebab itu tiap ia kesini gak perlu bayar tiket masuk, alias gratis. Gue auto-antusias dong wkwkwk 😂 hari gini, plesiran tapi gratisan... siapa yang kaga mau ?

Tapi waktu itu firasat gue gaenak, karena melihat banyaknya kendaraan lalu lalang sepanjang jalan mendekati lokasi, 
Dan ternyata.... beneran dong 😲
Rame bener wkwkwk
...
Cukup air yang boleh surut, semangat jangan.
...
Gue tiba di lokasi sekitar jam 4-5 sore, which is waktu itu air laut sedang surut dan pas banget mau sunset.
*alamak...
Mau gak mau gue harus pinter-pinter segera cari spot, (mungkin) waktu gue berkunjung kala itu bertepatan dengan liburan. Jadinya banyak banget wisatawan lokal yang harus berbagi spot dengan kita.

Yang mengagetkannya lagi, waktu gue ke sana sudah ada yang namanya HTM. Hanya saja selepas kita bayar, kita gak dapet tiket atau bukti tertulis *yaelah... gapapa dah 
.
(Harga tiket : Rp.5000/org include motor)
.
Kala itu gue small group empat orang (Pakdhe, budhe, nyokap, dan gue sendiri).
Well, apakah ini memang prosedur baru dari pihak pengelola resmi ? Atau ide kreatif dari beberapa pihak ?
I have no idea ! Yang jelas sebagai pengunjung saat itu gue cukup terganggu. Kenapa ?
  • Di loket ditulis, Tiket Masuk : Rp. 2000, in fact gue harus bayar Rp.5000. (Per orang)
  • So much crowded ! Antrian kacau balau, orang-orang yang ada di pintu masuk lebih fokus ke siapa yang bayar atau belum daripada mengkondisikan antrean.
  • Mungkin ini masih dalam tahap pengembangan, gue melewati gate bambu untuk masuk. Setelahnya gue (masih) harus merunduk (lagi) melewati tali rafia (alias rumput jepang) yang panjang menjuntai wkwk.
  • Begitu masuk gak ada pihak yang mengarahkan untuk parkir (walaupun gak ada tempat parkir, at least harus ada orang yang bertindak jadi juru parkir dong) 😧
    Bukan masalah tentang mau bayar atau enggak, tapi lebih ke hak dan kewajiban. Kalau adanya begini, gue mikirnya cuma (*ditarget) bayar demi keuntungan mereka doang.
    Ah sudahlah, semoga kedepannya bisa lebih baik lagi.
...
Watch your steps !

Begitu berada di kawasan tepi pantai, rombongan gue (*wkwk) cari tempat yang gak terlalu banyak orang (walau ujungnya ya menyebar luas).

Literally pantai ini jelas ketara belum banyak dijamah orang sebelumnya. Jalan setapak masih seadanya, jadi jangan bayangin ada fasilitas lain-lain termasuk toilet.

Mumpung air laut belum kembali pasang, gue mutusin untuk turun. Please Hati-hati ! Tebing cukup curam dan bebatuan cukup tajam, watch your steps guys 👣
Lucky me, gue mulai berjalan agak ke tengah and capture the sun *yeay

Melihat situasi yang ada sepertinya keindahan alam ini mulai terendus berbagai kalangan (termasuk gue) hahaha. Well, menikmati sih boleh aja sewajarnya. Bijaknya kita ikut turut menjaga ekosistem dan kelestarian wisata alam baru semacam ini.

Menurut gue, pantai ini boleh juga elo masukin ke bucket list tujuan liburan kalian. Camping ceria boleh jadi ide bagus nih, still... karena pantai ini destinasi baru, bijaknya we take our responsiblity (menyimpan dan membawa kembali sampah yang kita hasilkan)
Sayang bgt, gue nemuin sampah berserakan di bibir pantai 
*ish ish ish...

Eh nemu botol...

Botol apa nih ? Botol kecap apa botol apa ? *eh

Warning ! Karena pandemi ini belum berakhir, kesehatan kita menjadi tanggungjawab kita pribadi. Himbauan dari pemerintah terkait protokol kesehatan dan social distancing perlu kita perhatikan.

So, take your time... 
enjoy your time...

Berlibur boleh, utamakan kesehatan dan keselamatan ya 💪
Semoga kita bisa melewati badai pandemi ini, dan melewati hari dengan berseri-seri...

...
Save together and love the others


Bagaimana ?
Do you want to visit Pantai Karang Hitam ?
Enjoy sunset and your time at hidden beach ?

See you on the next journey...

BACA JUGA (ALSO READ) :