diary of "LONE WOLF"
![]() |
| solitude with gratitude |
Aku pernah mendengar kata-kata, "Kesendirian adalah hal yang harus kamu bayar untuk sebuah kesuksesan".
Apa pendapatmu tentang kata-kata tersebut?
Sebagai orang yang lahir dan tumbuh di Indonesia, bisa dibilang aku familiar dengan hidup berkelompok. Di mata orang luar, orang-orang Indonesia dikenal ramah, suka menolong, dan bisa hidup sederhana dengan lingkungannya (keluarga maupun tetangga).. dibandingkan dengan negara maju, misalnya Eropa atau Jepang, populasi penduduk disini masih lebih banyak daripada mereka.
Selama ini aku kerap mendengar banyak sekali istilah, diantaranya...
"Banyak anak, banyak rezeki" . selain itu,
"Rezeki sudah ada yang mengatur"
Aku berpendapat salah satu ideologi yang ada di lingkungan masyarakat adalah keyakinan atas dua faktor tersebut.
Dulu aku berpikir bahwa lepas lulus SMA di usia 18 tahun, aku bisa melanjutkan jenjang ke perguruan tinggi, mengambil jurusan yang kuminati, nantinya aku akan mencari pekerjaan yang relevan dengan jurusan tersebut. Atau aku harus bekerja..
Usia 25 tahun aku mulai punya usaha atau bisnisku sendiri.. di umur 27 aku akan menikah dengan pasangan pilihanku, dan di usia 30 aku sudah memiliki rumah, mobil, dan keluarga kecil. Rasanya hidup terasa lebih indah jika segalanya terjadi seperti itu.
Namun, fakta yang terjadi di lapangan tidak seperti yang kusebutkan. Ada banyak sekali kejutan maupun hal tak terduga yang ku alami. Kenyataan pahit yang aku saksikan ialah.. segalanya akan lebih mudah ketika kita memiliki privilage, power, or money terutama dari keluarga.
Aku menulis artikel ini secara sadar, aku tidak bermaksud untuk menyinggung siapapun.. aku tidak lagi membandingkan prosesku dengan orang lain. oke, mari kita mulai penjelasannya..
..
Aku bukan berasal dari kota besar dan bukan dari keluarga kaya, aku lahir dari pasangan yang menikah muda. Ayahku anak kedua dari tiga bersaudara, ia adalah anak laki satu-satunya. Ibuku lahir dari keluarga serba berkecukupan, ia memiliki banyak saudara.. ia anak kelima dari tujuh bersaudara, namun dua kakaknya meninggal sewaktu mereka kecil. Suatu kebetulan kedua orangtuaku bertemu, memulai kencan, dan pada akhirnya ayahku melamar ibuku. Kala itu usia mereka sekitar 25 tahun, usia yang dibilang pas untuk menikah.
Kedua orangtuaku bukan pewaris, ayahku sudah meninggalkan rumah sejak lulus SMA. Sementara ibuku tumbuh besar membantu dan ikut orangtuanya berdagang, sejak lulus sekolah ia bekerja menjadi buruh pabrik. Begitu mereka menikah.. mereka berdua tidak tinggal dengan keluarga, dan menyewa rumah. Ibuku aktif bekerja di pabrik rokok sementara ayahku memiliki bisnis menjual tepung untuk adonan bakso.
Di penghujung tahun 1999 aku lahir ke dunia.. Tuhan menakdirkanku untuk hadir di keluarga ini.
Sebagai pasangan muda yang masih sama-sama merintis, demi kebaikan.. orangtuaku membayar keluarga asuh untuk diriku. Hingga umur lima tahun, aku hanya tinggal dengan orangtuaku ketika akhir pekan, dan hari libur nasional. Yang artinya aku tahu mereka, namun belum sepenuhnya kenal dengan mereka.
Tahun 2006, akhirnya orangtuaku bisa membeli rumah. Aku sudah lulus dari taman kanak-kanak, dan tinggal bersama mereka. Bagaimana perasaannya? Jujur? Aku bahagia sekaligus tidak nyaman tinggal bersama keluarga. Kenapa? Aku kesulitan untuk beradaptasi di kampung baru, lingkungan baru, bahkan aku pada akhirnya tahu karakter asli kedua orangtuaku.
Ayahku khawatir aku tumbuh menjadi anak anti sosial, aku kesulitan menemukan teman di lingkungan rumahku. Hari-hari aku habiskan di dalam rumah, berteman tontonan acara TV atau bermain sendiri. Dari kecil aku suka tipe bermain simulator, semacam The Sims haha.. seru rasanya berimajinasi mengendalikan peristiwa hidup yang kita jalani.
Awalnya aku sangat takut sendirian, aku takut dengan adanya hantu, penjahat, atau hal-hal yang mengancam lainnya. Perlahan aku sudah terbiasa seorang diri, ada kalanya ibuku bekerja shift malam, sementara ayahku ada kegiatan yang mengharuskannya tidak pulang ke rumah. Beberapa kali ada waktu dimana salah seorang tetangga samping rumah menjadi babysitter untuk memperhatikanku saat orangtuaku tidak berada di rumah.
Lambat laun aku berhasil beradaptasi, sejak usia dasar aku sudah membawa kunci rumah sendiri. Aku juga tidak begitu bergantung kepada ayahku untuk sekedar pergi mengantarku ke sekolah. Ada kalanya aku memilih berjalan kaki. Orangtuaku tidak mendidikku untuk menjadi anak manja, aku tidak punya begitu banyak pillihan. Segala sesuatu yang aku inginkan tidak selalu aku dapatkan, ada waktunya aku merasa kecewa hingga belajar untuk tidak begitu berharap sesuatu terjadi sesuai ekspektasi.
Ketika dewasa aku sadar.. aku sayang dengan orangtuaku, namun tidak begitu banyak momen indah yang bisa aku ingat bersama mereka, justru lebih banyak pengalaman traumatis maupun tidak nyaman yang aku ingat. Saat ini orangtuaku sudah berpisah, kami semua sudah mempunyai kehidupan masing-masing, berita baiknya kami sudah saling memaafkan dan masih menjaga komunikasi walau tidak begitu sering bersilaturahmi. Sebenarnya aku lebih baik menjadi anak broken home daripada anak dari keluarga disfungsional.
Aku tidak pernah menyangka bahwa orangtuaku akan bercerai. Mungkin aku memang terlalu naif, aku hanya mengerti pernikahan hanya dapat dilakukan sekali, aku juga mendengar di dalam agama Perceraian itu diperbolehkan, namun sangat dibenci Tuhan.
Kembali ke masa sekarang, aku memperhatikan fenomena kawin-cerai di usia muda sering terjadi. Saat ini usiaku berjalan menuju 27 tahun, aku sudah meninggalkan kampung halaman 8 tahun lamanya. Ada kesempatan dimana aku pulang kampung, dan menjumpai tetangga, teman sekolah, atau saudara yang sudah lama tak kulihat. Ada yang sudah sukses, aura kebahagiaan terpancar dan memiliki keturunan. Tapi gak sedikit yang menurutku '"maaf", kondisinya memperihatinkan. Apalagi saat tahu, kondisi hidup di ekonomi super pas-pasan, ada yang bercerai, terpaksa menjadi single parent di usia yang relatif muda. Raut muka "susah" terlihat jelas di wajah mereka, bahkan kaget ketika mereka terlihat lebih tua dari usianya. Aku menulis ini bukan untuk perbandingan nasib atau flexing kalau hidupku lebih baik. Tidak! aku menulis artikel ini atas dasar pengamatan dan opini pribadi.
Yang aku sorot ialah "Pilihan Hidup", Ada anggapan bahwa kita harus menikah untuk bahagia.. padahal hidup akan terasa seperti neraka jika kita menikah dengan orang yang salah, belum lagi jika sudah menghasilkan keturunan, anak bukan suatu kesalahan yang harus menanggung dosa dan trauma bila di telantarkan.
Di dunia kerja juga, aku kerap mendengar keluhan beberapa pekerja perempuan yang mungkin lelah berjuang sendiri, mereka mengeluh bekerja itu capek.. mending menikah karena mereka ada yang menanggung kehidupannya. Lagi-lagi fenomena "mokondo" sering terdengar.
"Mokondo" sebutan untuk lelaki yang tidak bekerja atau mereka yang di provide oleh pasangannya. Aku berkeyakinan bahwa Pria memang sejatinya menjadi provider bagi pasangannya. Sepertinya aku tidak harus menuliskan lebih panjang tentang topik ini, karena di kenyataan jika membahas topik ini di suatu pembicaraaan pasti akan menghasilkan perdebatan berakhir keributan banyak pihak.
Aku tumbuh melihat figur lelaki yang nyaman jika dilayani, kurang ajarnya mereka memanipulasi pasangannya untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, mereka bekerja untuk memenuhi ego mereka sendiri, lupa tanggung jawab sebagai suami, bagi mereka memiliki istri yang bekerja ialah hal yang dibanggakan. Diluar pekerjaan, para istri masih harus tunduk dengan perintah suami. Mereka masih harus beberes rumah, mengurus anak, menghidangkan makanan, belum lagi kebutuhan seksual suami. Mirisnya ada suami yang tidak sadar diri, malas bekerja, atau sengaja lupa dan pelit terhadap keluarga.. sehingga istri yang harus banyak membayar biaya harian bahkan kebutuhan bulanan.
Aku memperhatikan di masa sekarang tantangan hidup makin sulit, belum lagi apa yang akan terjadi di masa depan ketika teknologi sudah mengambil alih banyak pekerjaan di dunia. Akankah manusia akan punah? Sistem yang ada juga lebih banyak merugikannya. Jujur, aku merasa kalau untuk slow living di Indonesia akan cukup mudah. Namun untuk hidup berkembang biak aku masih ragu, belum tentu hidup terjamin. Karena aku merasakan, apalagi di waktu pandemi, apa-apa kita upayakan sendiri. Menjadi lelaki perlahan seperti dikebiri secara halus, lapangan pekerjaan untuk pria tidak sebanyak wanita. Belum lagi di tahun ini badai PHK ada dimana-mana. Tuhan, ini arahnya kemana?
Pada akhirnya aku belajar realistis, aku punya prinsip kita perlu hidup mengacu kepada keyakinan yang kita percayai, namun disisi lain.. aku perlu berlogika akan hidup yang kujalani, standar apa yang aku pilih, dan apa sebetulnya tujuanku ini?
Menurutku hidup itu tentang belajar dan berproses, Aku sadar aku juga banyak melakukan dosa maupun kesalahan, hidup itu pilihan, waktu tidak dapat diputar ulang, sebab itu aku perlu mengambil hikmah dari segala peristiwa yang aku alami maupun lihat. Alangkah baiknya kita berhati-hati dalam memilih atau mengambil keputusan besar.
Aku berpendapat, "kita tidak bisa memilih terlahir seperti apa dan dari status sosial mana? Namun kita berhak memilih, dengan siapa kita akan berteman? dengan siapa kita akan berpasangan? karena percaya atau tidak dua aspek itu yang ikut andil menentukan kualitas hidup kita di masa depan, Apakah hidup kita bahagia? atau sebaliknya.
Jika ada pertanyaan, Apakah aku ada rencana menikah?
Iya, pasti. Suatu hari, jika ada umur dan kesempatan. Semoga :)
Apakah aku takut jatuh cinta?
Tidak, rasa cinta itu suatu anugrah yang indah. Jangan biarkan kita trauma atas orang-orang yang tak layak demi kebaikan. Kita berhak untuk jatuh cinta, menemukan orang yang tepat, dan menentukan pilihan hidup.
Aku bersyukur atas hidup yang aku jalani saat ini,
In the moment, aku menyadari bahwa jatuh cinta tidak bisa diburu-buru. Pernikahan terjadi juga tidak hanya berlandaskan cinta, & Hubungan antara dua manusia itu tentang investasi waktu dan komunikasi dua arah untuk sepakat arahnya mau kemana, dan dalam suatu hubungan harus ada rasa peduli dan menerima agar tercipta rasa cinta.
Semoga dalam hidup, kita selalu dipenuhi cinta, rasa syukur dan berkah yang tidak terputus..
Amin, Thank you for reading..
Selamat menjalani hidup :)
Love <3
Rama.
